Ke Jogja
Ke Jogja
“Karena di setiap
perjalanan akan ada pelajaran”
Oleh :
Uswah Hasanah
![]() |
Setiap tahun ada yang namanya study tour ke Jogja, tapi label
“wajib” akan disematkan ketika sudah memasuki semester 6 dengan dalih jika
tidak mengikuti study tour maka salah satu mata kuliyah akan gagal. Mahasiswa
mana yang tidak cemas jika sudah diancam dengan mata kuliyah akan gagal. Saat
ini mahasiswa angkatan 2007 telah memasuki semester 6 tentu kami mendapatkan
label wajib mengikuti study tour.
Hari kamis, 2 Februari 2010 kami berangkat ke Jogja dengan
menggunakan 2 bis. Aku dan Hayati ditempatkan di bis yang sama oleh
panitia. Ini salah satu pengalaman kuliyah yang tak terlupakan, berada dalam
perjalanan selama tiga hari dua malam dengan teman – teman kampus yang semuanya
satu angkatan hampir semua mahasiswa reguler dan ada satu orang yang merupakan
mahasiswa ekstensi.
Aku dan Hayati duduk di kursi nomor dua dari belakang, tepat
di belakang kami ada Guwan dan Aqin yang merupakan teman satu kelas.
Malam pertama di mobil berjalan sempurna, mahasiswa yang laki
– laki bermain gitar sambil bernyanyi kadang mereka menyanyikan lagu Minang, Jambi, Batak, Pop apa
saja yang mereka bisa. Sebenarnya suara mereka fals tapi demi menyenangkan hati
para vokalis dadakan ini, kami yang perempuan semua bertepuk - tepuk tangan
ringan. Sebenarnya ada hikmah dibalik tepuk tangan kami, suara mereka yang terdengar
fals tersamarkan.
Malam kedua meskipun siang tadi sempat mandi sewaktu sopir bis
memberhentikan mobil di POM rasanya badan tetap terasa letih karena kecapean.
Sudah jam 12 malam semua tertidur, antara terdengar dan tidak suara lagu minang
menina bobokkan kami. Tiba- tiba terdengar suara “Cekrek - Cekrek” dan
selanjutnya ada suara tawa dari kursi yang paling belakang aku memperkirakan itu
adalah kursi tempat duduk Ahmad dan Gengnya. Ahmad adalah kelas A yang
merupakan anak salah satu dosen kampus tapi terkenal jahil.
Aku yang penasaran dengan suara cekikikan akhirnya membuka mata, lalu aku melihat ke
belakang dan bertanya.
“Aqin, kenapa Ahmad dan gengnya tertawa terbahak – bahak?”
“Kamu enggak sadar Anna, mereka foto kita semua sewaktu sedang tertidur. Tentu mereka tertawa banyak yang mulutnya menganga.”
Aku yang tidak tahan mendengar kata menganga justru ikut
tertawa membayangkan alangkah horornya muka kami tidur dengan mulut menganga.
Setelah insiden foto bak model “tidur dengan mulut menganga”
kami semua melanjutkan tidur lagi sesuai intruksi Odri yang merupakan ketua
umum pendidikan matematika yang kebetulan satu mobil dengan kami mobil bis ke
dua.
“Stop stop stop. Tolong pak berhenti, tolong pak.”
Kami satu mobil terkejut mendengar suara orang berteriak –
teriak minta tolong agar mobil bis diberhentikan. Aku melihat jam ternyata
pukul 02.00 dini hari, aku lihat laki – laki yang berteriak – teriak itu
berguling – guling di lantai bis. Kami semua ketakukan mungkin saja ia mengalami
sakit yang kronis, tapi disekitar jalan yang kami lewati ini sepi tidak ada
rumah warga satupun apalagi rumah sakit.
Akhirnya sopir bus menghentikan mobilnya, laki – laki yang
tidak pernah aku lihat itupun turun dari bis dengan terseok - seok. Batinku,
siapa laki – laki itu rasanya ingatanku tidak terlalu buruk untuk mengingat
teman – temanku yang satu angkatan.
“Hayati, siapa laki – laki itu? Rasanya baru kali ini aku
melihatnya.”
“Namanya aku juga tidak tahu Anna, mungkin anak ekstensi yang
katanya ikut di bis kita, bis kedua.”
15 menit kami semua menunggu di bus dengan cemas karena saat
dia turun tanpa berkata apa – apa hanya berlari – lari tidak karuan.
“Alhamdulillah.” Laki – laki itu naik bis lagi.
“Sakit apa?” kompak kami satu bis menanyakan saat ia
melangkahkan kaki di pintu depan bis.
“Buang air besar.” Sambil nyengir dan malu – malu dia
mengatakan itu.
Sebenarnya aku ingin iseng menanyakan memangnya tadi ada
sumur diluar sana? Tapi aku urung melakukan hal itu, alangkah jahilnya jika itu
aku lakukan, sementara dia sudah cukup malu dengan adegan sebelumnya.
Setelah perjalanan tiga hari dua malam sampai juga kami di
kota yang memiliki banyak sekali julukan yaitu kota pelajar, kota budaya, kota
seniman, kota museum dan kota gudeg kemudian ada juga disini istilah makanan
nasi kucing. Kata Bapak 45 menit dari kota Jogja akan sampai ke kota Magelang tepatnya desa Bumi Ayu tempat tinggal mbah kakung dari sebelah bapak dan tempat Bapak dulu dibesarkan
sampai bersekolah hingga lulus SD. Sebenarnya aku sangat penasaran seperti apa
kota Magelang khususnya desa Bumi Ayu tempat tinggal Bapak sewaktu bersekolah.
Apakah se-Ayu namanya? Kalau aku membaca buku sejarah dari Borobudur Bumi Ayu
merupakan Kadipaten pada masa kerajaan.
Di Magelang banyak sekali tempat wisata seperti Borobudur
yang merupakan salah satu keajaiban dunia sebenarnya terletak di kota Magelang
tapi kebanyakan orang lebih mengenalnya terletak di Yogyakarta, adalagi Taman
Kyai Langgeng menurut keterangan Bapak taman ini sejuk sekali, adalagi yang
unik Gereja Ayam.
Kami dua rombongan bis mahasiswa menginap di asrama haji kota
Jogja, setiap kamar diisi 4 orang. Aku dan Hayati tentu saja satu kamar, kami
menempati kamar yang berada di lantai dua tepat di belakang kamar kami ada
sungai yang mengalir jadi setiap bangun pagi setelah membuka jendela akan
terasa hawa sejuk yang menyembur dari arah sungai. Setelah selesai berkemas
kemudian mandi dan diberi waktu istirahat 1 jam diharapkan kami sudah berada di
bis pukul 9 pagi untuk menikmati ikon kota Jogja yaitu Borobudur.
. . . . .
Kegiatan kami sangat padat setiap pagi tepatnya jam 7 harus
sudah siap dan selesai sarapan, kemudian dilanjutkan ke P4TK Matematika untuk study. Jam 4
sore kami baru keluar dari ruang praktek begitu seterusnya setelah jam 04.00
sore dilanjutkan jalan – jalan, hari pertama sepulang dari P4TK Matematika kami menikmati
Pantai Parang Teritis sayangnya sampai disana sudah jam setengah 7 malam
alhasil kami tidak menikmati sunset, berfoto – fotopun dalam keadaan wajah
kusam karena lelah sepertinya hanya gigi – gigi kami yang masih terlihat
berkilau ditengah kegelapan malam.
. . . . .
Hari kedua setelah pulang dari P4TK Matematika kami ke alun - alun kota
Jogja, nasib kami kali ini sama saja seperti saat di Parang Teritis, kami
sampai di alun – alun Yogyakarta jam setengah tujuh malam alhasil Keraton sudah
tutup.
Ada yang aneh dengan perutku, aku merasakan lapar yang amat
sangat sepertinya Hayati juga merasakan hal yang sama. Meskipun lapar kami
berdua ingat belum melaksanakan kewajiban yaitu shalat maghrib, aku beruntung memiliki
teman karib seperti Hayati kami selalu mengingatkan untuk beribadah khususnya
yang berkaitan dengan shalat wajib yaitu shalat lima waktu.
Setelah berlari – lari dari bis selama 15 menit karena
khawatir waktu maghrib habis akhirnya kami menemukan masjid di dekat keraton
yaitu Masjid Gedhe Kauman yang merupakan masjid raya Kesultanan Yogyakarta yang
terletak di sebelah barat kompleks alun – alun utara Kraton Yogyakarta, hanya
kami berdua yang shalat di masjid ini mungkin teman – teman yang lain shalat di
masjid yang lain lagi. Setelah shalat ada perasaan sejuk yang menyelimuti
qalbu, jika saja tadi kami tidak lari kearah masjid pastilah perasan berdosa
akan terus membayang – bayangi hidup. Aku ingat nasehat salah satu ustads
sewaktu mendengar kultumnya di radio pada saat subuh bersama Zaima teman satu
kosan ku itu, ustadz tersebut berkata “Sekali saja kalian meninggalkan shalat,
maka akan terbiasa dengan dua kali kemudian dilanjutkan tiga kali dan
seterusnya.”
Setelah shalat aku dan Hayati beristirahat sejenak, tidak
saling mengobrol diantara kami. Kami berdua sama – sama diam sembari menikmati
sekitar masjid yang begitu Indah dan megah ini, masjidnya bersih dan rapi,
kompleks Masjid Gedhe Kauman dikelilingi oleh suatu dinding yang tinggi. Pintu
utama kompleks terdapat disisi timur dengan konstruksi semar tinandu.
Arsitektur bangunan induk berbentuk tajuq persegi tertutup dengan atap
bertumpang tiga. Untuk masuk ke dalam terdapat pintu utama di sisi timur dan
utara. Lantai ruang utama dibuat lebih tinggi dari serambi masjid dan lantai
serambi sendiri lebih tinggi dibandingkan halaman masjid. Disisi utara – timur
– selatan serambi terdapat kolam – kolam kecil. Luas masjid ini sepertinya tiga
kali dari luas masjid di kampungku. Ada
beberapa bapak – bapak yang sudah sepuh khusyuk berzikir. Sayangnya sewaktu
kami memasuki gerbang masjid, ada pengemis disana. Bukannya aku membenci
pengemis, tapi karena dalam islam mengemis itu dilarang.
Setelah sejenak saling berdiam diri kami berdua saling senyum
sebagai isyarat saja untuk berkata terima kasih sobat dengan persahabatan ini,
persahabatan yang terus saling mengingatkan karena Allah. Baru kali ini aku
merasakan memiliki teman yang selama berteman bertahun – tahun tidak pernah
bertengkar jikapun salah satu diantara kami ada yang melakukan kesalahan, maka
kami saling intropeksi diri untuk berebut salah. Mungkin ini pula yang namanya
berteman karena Allah.
Selesai shalat kami berdua melanjutkan perjalanan untuk
mencari nasi kucing yang katanya ini menjadi menu makanan mahasiswa yang sedang
menempuh pendidikan di kota Jogja.
“Bude, pinten regane?” dengan bahasa jawa yang sedikit kaku,
aku menanyakan harga nasi kucing sama ibu – ibu yang berjualan. Sebenarnya di
rumah aku terbiasa menggunakan bahasa jawa tapi bahasa jawa ngukuh.
“Gangsal ewu nduk, tiang Sumatera nggeh?”
Aku dan Hayati saling pandang bingung mau jawab apa. Akhirnya
ibu tersebut memulai pembicaraan lagi dengan bahasa Indonesia serta senyuman
khasnya.
“Harga nasinya lima ribu, adek berdua dari Sumatera ya?”
“Iya Bude”. Aku dan Hayati kompak menjawab bersama sambil
tersenyum malu.
“Kalau di Jogja gak perlu nanya dulu dek kalau mau beli
makanan insyaallah pedagang disini jujur semua meskipun tahu yang beli bukan
orang Jogja.”
. . . . .
Hari ketiga setelah pulang dari P4TK kami dua rombongan bis
mahasiswa berkunjung ke pasar Malioboro. Pasar Malioboro merupakan kawasan
perbelanjaan yang legendaries yang menjadi salah satu kebanggaan kota
Yogyakarta. Menurut keterangan Bapak belanja di pasar Malioboro murah – murah
asalkan bisa bahasa Jawa.
Tapi aku urung menggunakan bahasa Jawa lagi khawatir jika
ditanya akan kebingungan seperti waktu beli nasi kucing kemarin malam di dekat
alun – alun keraton Yogyakarta.
Tidak banyak uang yang aku gunakan untuk membeli oleh – oleh
bukan merasa tidak cukup karena alhamdulilah aku dibawakan uang lebih. Tapi aku
merasa zalim kepada kedua orang tuaku jika berfoya – foya sementara bapak dan
ibu dirumah bekerja panas – panasan di tengah terik matahari.
Hari ketiga di P4TK Matematika itu berarti hari terakhir di kota Jogja,
ada banyak pengalaman yang kami peroleh karena setiap perjalanan akan ada
pelajaran. Terima kasih Allah yang Maha Seniman yang telah menciptakan pesona
Parang Teritis di kota Jogja dan terima kasih Allah yang Maha Jenius yang telah
menganugerahkan kecerdasan kepada manusia sehingga mampu mendirikan bangunan
seistimewa Borobudur.

Komentar
Posting Komentar