Ketika Aku Berhijab
Ketika Aku Berhijab
Dengan memeluk mushaf, aku terpaku di depan cermin. Aku tersenyum melihat
perubahan yang aku tetapkan pagi ini, lebih tepatnya setelah shalat subuh.
Dalam hati aku berucap “Ya Allah istiqomahkan aku dengan hijabku.” Aku berharap
inilah hijab yang diridhai olehNya yang sesuai perintahNya dan sunah rasulNya.
Karena ini adalah hari libur aku beraktifitas full time dirumah, tentunya
dengan hijab yang sudah aku kenakan sebagai mahkota kepalaku. Bapak dan Ibu
bersikap bijak dengan perubahanku, beberapa tetangga ada yang lewat di depan
rumah seperti melihat keanehan yang ada padaku. Belum lagi saudara yang
kebetulan main kerumah tanpa basa dan basi mereka langsung menyerudukku dengan
perkataan tajamnya. “Ngapain sih Kamu pakai jilbab Na? Ah, mungkin juga besok
kamu akan berubah lagi.” Aku terus berdo’a agar di istiqomahkan dengan hijabku
ini mungkin mereka hanya butuh waktu atas perubahanku, syukur – syukur mereka yang
mencela bisa mengikuti hijrahku.
Aku bukan anak yang terlahir dari keluarga yang benar – benar memahami
syariat, tapi aku bukan pula dari keluarga yang melanggar syariat. Tapi aku
yakin bahwa perubahan yang ingin dilakukan tidak perlu memandang seperti apa
latar belakang keluarga. Yang penting ada niat dan ikhtiar benar –benar
berhijrah untukNya.
Setelah memantapkan hati agar sepenuh waktu berhijab, maksudnya ketika
diluar maupun dirumah berhijab sepertinya masih ada yang menjanggal di benakku.
Mungkin ini mengenai bisnis yang aku jalankan, hatiku semakin tidak tenang
setiap menjalankan bisnis ini. Jika ini bukan suatu dosa, mengapa aku seperti
merasakan sengsara hati.
Aku memiliki hobi menghias kue ulang tahun, hobi ini terus aku pelajari
hingga aku mampu menjalankan bisnis yang berkecimpung dalam menghias kue.
Bisnisku semakin lama semakin pesat, pelanggan yang ada bukan hanya dari orang
– orang sekeliling tempat tinggalku, tapi orang yang beda kecamatan sudah
mengenalku. Bapak yang awalnya ragu atas
bisnis kue yang aku pelajari secara otodidak ini, justru sekarang Bapak yang memberikan
ide agar aku melebarkan sayap dengan membuka toko di kota tempat tinggalku.
Anehnya, ketika semua keluarga mendukung atas bisnisku ini justru
keraguan itu timbul dariku. “Aku sudah tidak ingin menjalankan bisnis ini lagi”
aku utarakan apa yang menjadi beban fikiranku selama ini pada keluarga. Sontak
semua keluarga kaget mendengar penuturanku. Bapak, Ibu, Mbak dan Kakak ipar
menatapku penuh keheranan.
Aku jelaskan kepada mereka bahwa aku tidak merasakan ketenangan karena
aku fikir bisnis yang aku jalankan itu tidak memberikan manfaat bagi orang
lain, belum lagi jika yang memesan untuk pacarnya. Bagaimana mungkin aku yang
memantapkan hati melarang apa yang namanya pacaran namun aku seperti penghubung
yang menghalalkan jalan menuju dosa berpacaran.
![]() |
| ekajcole.blogspot.com |
Aku ingin memiliki hobi yang baru berupa jihad di jalan Allah, jihad yang
ingin aku lakukan bukanlah jihad di medan perang karena aku adalah perempuan lagi
pula ini abad 21 sudah tidak ada lagi yang namanya peperangan. Aku ingin
berjihad dengan penaku, aku ingin apa yang aku tulis mampu memberikan manfaat
untukku dan orang lain.
Jika ada yang bertanya mengapa aku menulis? Kita tahu bagaimana sebuah
tulisan dapat berdampak besar bagi kehidupan setiap manusia. Kita hidup di
sebuah negara yang pernah mengalami penjajahan selama 3,5 abad, kemudian
lahirlah para tokoh pergerakan nasional yang melalui mereka Allah izinkan negeri
ini terlepas dari perbudakan. Bagaimana para pemikir kemerdekaan mampu berfikir
bahwa kolonialisme adalah kesalahan jika bukan dari membaca. Jika kita flashback sejarah orang – orang besar
seperti Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh pergerakan nasional lainnya, pemikiran
mereka lahir karena buah fikiran Multatuli yang bernama Douwwes Dekker yang
tertulis dalam novelnya Max Haveelar. Kita
kenal bahwa isi novel Multatuli tersebut sebuah bentuk penolakan terhadap
kolonialisme.
Begitu besar dampak sebuah tulisan bagi kehidupan bahkan mampu mengeluarkan
negeri dari perbudakan. Inilah yang aku inginkan untuk kehidupanku, selain dari
sejarah tersebut hal lain yang mempengaruhiku untuk menulis adalah kalimat Pramoedya
Ananta Toer. Seorang sastrawan Indonesia yang legendaris yang terus mendapatkan
penghargaan meskipun beliau telah tiada.
“Kau, Nak, paling sedikit kau
harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun?
Karena kau menulis, suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi, sampai
jauh, jauh dikemudian hari… Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia
tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
Aku ingin jadi muslimah yang intelektual, orang akan dihargai karena
ilmunya bukan hartanya. Aku biasa – biasa saja jika melihat orang lewat di
depanku dengan mobil yang super cling karena harta keluarga atau tayangan
televisi yang memamerkan kehidupan para pebisnis atau artis dengan rumah
tingkat lima. Namun, berapa kali hatiku bergetar jika mendengarkan orang mampu
menjadi ulama besar karena ilmunya, berkeliling dunia karena ilmunya dan mampu
menjadi tokoh bangsa karena ilmunya.
Aku ingin jadi muslimah yang bermanfaat untuk sesamaku, mungkin bagi
sebagian orang itu hanyalah kata – kata klasik tapi bagiku itu energi yang
setiap harinya ingin aku gali. Dengan menulis aku bisa mengajak orang tanpa
harus menggurui, dengan menulis fikiranku bebas, dengan menulis inilah jihadku,
dengan menulis inilah sedekahku, dengan menulis inilah hidupku. Dengan hijab
syar’i ditambah menjadi penulis aku tetap menjadi muslimah yang cool dalam
peradapan.




Komentar
Posting Komentar