Ketika Aku Berhijab

Ketika Aku Berhijab
Oleh : Uswah Hasanah

artikelmuslimah.com
Dengan memeluk mushaf, aku terpaku di depan cermin. Aku tersenyum melihat perubahan yang aku tetapkan pagi ini, lebih tepatnya setelah shalat subuh. Dalam hati aku berucap “Ya Allah istiqomahkan aku dengan hijabku.” Aku berharap inilah hijab yang diridhai olehNya yang sesuai perintahNya dan sunah rasulNya.
artikelmuslimah.com
Karena ini adalah hari libur aku beraktifitas full time dirumah, tentunya dengan hijab yang sudah aku kenakan sebagai mahkota kepalaku. Bapak dan Ibu bersikap bijak dengan perubahanku, beberapa tetangga ada yang lewat di depan rumah seperti melihat keanehan yang ada padaku. Belum lagi saudara yang kebetulan main kerumah tanpa basa dan basi mereka langsung menyerudukku dengan perkataan tajamnya. “Ngapain sih Kamu pakai jilbab Na? Ah, mungkin juga besok kamu akan berubah lagi.” Aku terus berdo’a agar di istiqomahkan dengan hijabku ini mungkin mereka hanya butuh waktu atas perubahanku, syukur – syukur mereka yang mencela bisa mengikuti hijrahku.
Aku bukan anak yang terlahir dari keluarga yang benar – benar memahami syariat, tapi aku bukan pula dari keluarga yang melanggar syariat. Tapi aku yakin bahwa perubahan yang ingin dilakukan tidak perlu memandang seperti apa latar belakang keluarga. Yang penting ada niat dan ikhtiar benar –benar berhijrah untukNya.
Setelah memantapkan hati agar sepenuh waktu berhijab, maksudnya ketika diluar maupun dirumah berhijab sepertinya masih ada yang menjanggal di benakku. Mungkin ini mengenai bisnis yang aku jalankan, hatiku semakin tidak tenang setiap menjalankan bisnis ini. Jika ini bukan suatu dosa, mengapa aku seperti merasakan sengsara hati.
Aku memiliki hobi menghias kue ulang tahun, hobi ini terus aku pelajari hingga aku mampu menjalankan bisnis yang berkecimpung dalam menghias kue. Bisnisku semakin lama semakin pesat, pelanggan yang ada bukan hanya dari orang – orang sekeliling tempat tinggalku, tapi orang yang beda kecamatan sudah mengenalku.  Bapak yang awalnya ragu atas bisnis kue yang aku pelajari secara otodidak ini, justru sekarang Bapak yang memberikan ide agar aku melebarkan sayap dengan membuka toko di kota tempat tinggalku.
Anehnya, ketika semua keluarga mendukung atas bisnisku ini justru keraguan itu timbul dariku. “Aku sudah tidak ingin menjalankan bisnis ini lagi” aku utarakan apa yang menjadi beban fikiranku selama ini pada keluarga. Sontak semua keluarga kaget mendengar penuturanku. Bapak, Ibu, Mbak dan Kakak ipar menatapku penuh keheranan.
Aku jelaskan kepada mereka bahwa aku tidak merasakan ketenangan karena aku fikir bisnis yang aku jalankan itu tidak memberikan manfaat bagi orang lain, belum lagi jika yang memesan untuk pacarnya. Bagaimana mungkin aku yang memantapkan hati melarang apa yang namanya pacaran namun aku seperti penghubung yang menghalalkan jalan menuju dosa berpacaran.
ekajcole.blogspot.com
Aku ingin memiliki hobi yang baru berupa jihad di jalan Allah, jihad yang ingin aku lakukan bukanlah jihad di medan perang karena aku adalah perempuan lagi pula ini abad 21 sudah tidak ada lagi yang namanya peperangan. Aku ingin berjihad dengan penaku, aku ingin apa yang aku tulis mampu memberikan manfaat untukku dan orang lain.
Jika ada yang bertanya mengapa aku menulis? Kita tahu bagaimana sebuah tulisan dapat berdampak besar bagi kehidupan setiap manusia. Kita hidup di sebuah negara yang pernah mengalami penjajahan selama 3,5 abad, kemudian lahirlah para tokoh pergerakan nasional yang melalui mereka Allah izinkan negeri ini terlepas dari perbudakan. Bagaimana para pemikir kemerdekaan mampu berfikir bahwa kolonialisme adalah kesalahan jika bukan dari membaca. Jika kita flashback sejarah orang – orang besar seperti Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh pergerakan nasional lainnya, pemikiran mereka lahir karena buah fikiran Multatuli yang bernama Douwwes Dekker yang tertulis dalam novelnya Max Haveelar.  Kita kenal bahwa isi novel Multatuli tersebut sebuah bentuk penolakan terhadap kolonialisme.
Begitu besar dampak sebuah tulisan bagi kehidupan bahkan mampu mengeluarkan negeri dari perbudakan. Inilah yang aku inginkan untuk kehidupanku, selain dari sejarah tersebut hal lain yang mempengaruhiku untuk menulis adalah kalimat Pramoedya Ananta Toer. Seorang sastrawan Indonesia yang legendaris yang terus mendapatkan penghargaan meskipun beliau telah tiada.
 “Kau, Nak, paling sedikit kau harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis, suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari… Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
Aku ingin jadi muslimah yang intelektual, orang akan dihargai karena ilmunya bukan hartanya. Aku biasa – biasa saja jika melihat orang lewat di depanku dengan mobil yang super cling karena harta keluarga atau tayangan televisi yang memamerkan kehidupan para pebisnis atau artis dengan rumah tingkat lima. Namun, berapa kali hatiku bergetar jika mendengarkan orang mampu menjadi ulama besar karena ilmunya, berkeliling dunia karena ilmunya dan mampu menjadi tokoh bangsa karena ilmunya.
Aku ingin jadi muslimah yang bermanfaat untuk sesamaku, mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah kata – kata klasik tapi bagiku itu energi yang setiap harinya ingin aku gali. Dengan menulis aku bisa mengajak orang tanpa harus menggurui, dengan menulis fikiranku bebas, dengan menulis inilah jihadku, dengan menulis inilah sedekahku, dengan menulis inilah hidupku. Dengan hijab syar’i ditambah menjadi penulis aku tetap menjadi muslimah yang cool dalam peradapan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Sungai Thames