Ngetrip Sekaligus Belajar Sejarah di Sungai Thames #AyoKeUK
Ngetrip Sekaligus Melihat Bukti Transformasi di Sungai Thames
#AyoKeUK
Oleh : Uswah Hasanah
Ke UK, belum afdhol
rasanya kalau tidak mengarungi Sungai Thames. Hal tersebut yang dapat saya
simpulkan jika melihat sejarah Sungai Thames yang pernah memiliki catatan kelam
pada masa lalunya, yang kini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang
berkunjung ke UK. Bahkan Sungai Thames dapat dijadikan contoh transformasi
kotor menjadi sungai bersih, yang saat ini menjadi permasalahan di Indonesia. #AyoKeUK#WTGB#OMGB
Selayang pandang Sungai Thames
Sungai
Thames adalah sebuah sungai yang mengalir di selatan Inggris dan menghubungkan
kota London dengan laut. Sungai sepanjang 356 kilometer dengan luas perairan
mencapai 12,935 km2 ini bermuara di laut utara.
Sungai
Thames merupakan sungai yang mengawali sejarah berdirinya London, ibu kota
Inggris. London dibangun oleh kerajaan Romawi di abad 43 dengan nama Londonium.
Sungai Thames berperan sangat penting dalam penyediaan protein ikan bagi
penduduk sekitar selain juga mensuplai air minum, pengairan, lahan pertanian
dan transportasi.
Sungai
Thames mengalir sejauh 346 km melalui selatan Inggris dan merupakan sungai
terpanjang di negara ini. Beberapa kota yang dilalui oleh Thames adalah Oxford,
Reading, Henley-on-Themes, Windsor, Kingston Upon Thems dan Richmon.
Saat
ini sungai Thames lebih banyak dimanfaatkan sebagai daerah tujuan wisata. Para
wisatawan yang berkunjung ke London tidak akan melewatkan tur mengarungi sungai
Thames dengan kapal dikarenakan keindahannya. Namun, ternyata dibalik keindahan
sungai Thames ini ada cerita buram yang mengisi sejarah mengalirnya sungai ini
di London. Membengkaknya populasi penduduk ditambah revolusi industry di
Inggris, memperparah kondisi sungai. Sungai menjadi tempat penampungan limbah
rumah tangga (termasuk kotoran manusia) dan industri yang mengakibatkan sungai
tercemar berat.
Pasokan Air dan Sanitasi sebelum
Bau Besar
Hingga
akhir abad 16, warga London menggantungkan persediaan air mereka pada pasokan
air yang bersumber dari air sumur dangkal, Sungai Thames beserta anak – anak
sungainya, atau salah satu dari sekitar selusin mata air alami yang terdapat di
London, termasuk mata air musim semi di Tyburn yang dihubungkan oleh pipa yang
menyalurkan air ke sumur atau tangki besar di Cheapside. Pasokan air ini tidak
diizinkan digunakan untuk tujuan komersial atau industri yang tidak sah. Untuk
itu, pemerintah kota London menunjuk seorang penjaga saluran yang akan
memastikan bahwa penduduk yang berprofesi sebagai pembuat bir, juru masak dan
penjual ikan akan membayar untuk air yang mereka gunakan.
Penduduk
London yang kaya bertempat tinggal di dekat pipa saluran air dan bisa
mendapatkan izin untuk penyaluran air kerumah mereka, namun penyadapan tidak
sah terhadap saluran air tetap saja tidak bisa dicegah, terutama oleh rumah
tangga miskin. Air dari saluran diberikan kepada setiap rumah oleh operator
air, yang dikenal dengan sebutan “cobs”. Pada tahun 1496, para cobs ini
memberikan serikat mereka sendiri yang dinamakan “Persaudaraan Petugas Air dari
St. Cristofer”
Pada
tahun 1582, seorang warga Belanda bernama Peter Morice menyewa sebuah bangunan
di tepi utara Sungai Thames dan kemudian mendirikan sebuah kinci air yang
berfungsi untuk memompa air dari Thames ke berbagai tempat di London. Kinci air
lainnya kemudian ditambahkan lagi pada tahun 1584 dan 1701 dan tetap digunakan
sampai tahun 1822. Namun, pada tahun 1815, limbah rumah tangga warga London
diperbolehkan untuk dibuang ke Sungai Thames melalui saluran pembuangan.
Pembuangan limbah ini terus dilakukan selama tujuh tahun berikutnya. Limbah ini
berpotensi untuk di pompa kembali ke rumah tangga yang sama yang kemudian
digunakan sebagai air minum, memasak dan mandi. Sebelum bau besar, ada sekitar
200.000 cesspit (tempat pembuangan kotoran, mirip dengan septic tank di era
modern) di London. Untuk mengosongkan satu cesspit ini warga diharuskan
membayar sebesar satu shilling. Banyak warga London yang tidak mau membayarnya.
Akibatnya, bau kotoran merebak ke udara dan rumah tangga yang tidak mampu mengosongkan
cesspit harus menyalurkan pembuangan ke Sungai Thames.
Keadaan Sebelum Bau Besar
Masalah
lainnya adalah diperkenalkannya toilet duduk untuk menggantikan penggunaan
“kamar-pot” yang selama ini digunakan oleh warga London. Penggunaan toilet
duduk ini digunakan oleh warga London. Penggunaan toilet duduk ini secara
otomatis meningkatkan penggunaan air siraman yang dibuang kedalam cesspit.
Akibatnya, air dan kotoran tersebut sering meluap ke jalanan, mengalir melalui
selokan yang awalnya dirancang untuk mengalirkan air hujan, namun sekarang juga
menjadi tempat pembuangan kotoran, limbah pabrik, limbah dari rumah pemotongan
hewan, dan lainnya, mencemari kota sebelum limbah – limbah tersebut bermuara ke
sungai Thames.
Tahun
1858, musim panas di London berlangsung dengan sangat panjang dan luar biasa
panas. Membengkaknya populasi penduduk ditambah dengan terjadinya Revolusi
Industri di Inggris menyebabkan Sungai Thames beserta anak – anak sungainya
penuh dengan kotoran dan limbah. Cuaca yang panas mendorong bakteri untuk
berkembang dan bau yang dihasilkan begitu menyengat sehingga tercium sampai ke
gedung Dewan Rakyat Britania Raya di Gedung Parlemen dan Gedung pengadilan. Ada
rencana untuk memindahkan parlemen ke Istana Hampton dan Dewan Pengadilan ke
Oxford dan St. Albans. Namun, saat musim panas berakhir, Dewan Rakyat memilih
untuk meyelesaikan masalah bau tersebut dengan menunjuk komite khusus untuk
menanggulangi bau besar di London.
Sungai Thames setelah Bau Besar
Sejarah
mencatat berbagai kejadian buruk yang menimpa kota London akibat kondisi sungai
Thames yang sangat tercemar. Dimulai dari tahun 1932 ketika wabah kolera
menjangkiti penduduk kota, tercatat ribuan orang meninggal akibat penyakit
tersebut. Kemudian ketika musim panas di tahun 1858 sungai ini mendapat julukan
baru sebagai “the great stink” atau “the big stink” karena bau menyengat yang
berasal dari sungai. Kandungan H2S yang sangat tinggi mengakibatkan sungai
berbau seperti telur busuk. Pada tahun 1878 sebuah kapal bermesin uap bernama
Princess Alice yang membawa sekitar 600 orang penumpang terbalik di sungai ini
akibat sebuah tabrakan. Seluruh penumpang diberitakan meninggal bukan karena
tenggelam, namun karena menghirup racun yang terkandung di air sungai yang
tercemar berat.
Tahun
1957 sungai Thames di deklarasikan sebagai sungai yang mati secara biologis,
dimana kehidupan baik ikan maupun burung tidak ditemukan lagi disana. Hal
tersebut diakibatkan oleh rendahnya kadar oksigen terlarut di air sungai serta
racun yang terkandung dari polusi.
Sejak
sungai Thames di deklarasikan sebagai “The Great Stink” atau “Bau Besar”,
pemerintah kota London terlebih anggota
parlemen berusaha keras mengatasi masalah polusi di sungai Thames. Apalagi bau
busuk dari sungai selalu tercium sampai ke ruangan anggota parlemen. Sejak itu
pemerintah mulai mencanangkan berbagai program pengelolaan sungai. Dimulai
dengan mega proyek konservasi dan modernisasi sistem saluran pembuangan kotoran
manusia, perbaikan sistem pembuangan limbah industri. Kemudian pemerintah membentuk
berbagai otoritas yang bertugas untuk mengelola sungai, sumber air, banjir,
polusi serta saluran pembuangan kotoran
manusia. Disamping itu berbagai aturan diterbitkan guna mengatur segala
kegiatan terkait pemanfaatan sungai dan pengendalian saluran pembuangan kotoran
manusia. Tercatat sejak tahun 1970-an berbagai program tersebut mulai
memperlihatkan hasil yang sangat memuaskan. Ikan dan burung kembali ke sungai
yang menandai pencemaran di sungai sudah mulai berkurang. Kerja keras yang
dilakukan dalam waktu yang cukup panjang ternyata dapat dirasakan oleh penduduk
London saat ini.

Komentar
Posting Komentar